Al-Qur'an
Diposting oleh
Admin
| Selasa, 01 Desember 2015 at 12/01/2015 02:18:00 PM
0
komentar
"Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir),lalu kami kurangi luasnya dari segala sisinya?Maka apakah mereka yang menang?" (Q.S 21: 44)
Mungkin Anda sering berjumpa dengan sejumlah kecil ayat-ayat semacam itu di dalam kitab suci kita umat Islam ,Al-Qur'an,bukan begitu?Teks-teks suci yang semula bermula dari sebuah pembicaraan sejarah kenabian lalu beranjak menuju dunia "geometri".Pergeseran-pergeseran ini seringkali muncul menghentikan gerak pikiran manusiawi kita untuk memercayai adanya kekuatan transedental di sisi lain hakikat kehidupan ini.Kekuatan ghaib,metafisis yang justru menciptakan suatu sistem fisik,rasionalitas lalu bisa menjelaskan cikal bakal dari rasionalitas itu sendiri.Contoh persoalan yang lain adalah: Adanya sebuah ayat tentang "optika" yang diselipkan diantara pembicaraan metafisis di dalam satu ayat sekaligus.Ataupun disiplin "astronomi" yang tiba-tiba disebutkan dalam sebuah ayat mengenai hukum.Bukan tiba-tiba dan juga bukan sebuah inkoherensi.Inilah substansi dan susunan yang luar biasa mengagumkan dari sebuah karya cipta ilahi,Allah Swt.;Al-Qur'an
Kembali ke "ayat" tersebut di atas.Ada 2 gagasan : Pertama,mengenai susunan geometris-bentuk bumi yang secara implisit digambarkan dengan istilah atraf,sisi-sisi.Kedua,mengenai sifat mekanis "kami menguranginya".Istilah sisi menyangkut "bentuk".Bentuk yang bagaimanakah?.Setelah menggabungkan istilah komplementer "mengurangi luasnya" dengan konsep geodesi "membentang lurus pada kutub-kutub" kita sampai pada gagasan mengenai sebuah ellipsoid.
Kembali ke "ayat" tersebut di atas.Ada 2 gagasan : Pertama,mengenai susunan geometris-bentuk bumi yang secara implisit digambarkan dengan istilah atraf,sisi-sisi.Kedua,mengenai sifat mekanis "kami menguranginya".Istilah sisi menyangkut "bentuk".Bentuk yang bagaimanakah?.Setelah menggabungkan istilah komplementer "mengurangi luasnya" dengan konsep geodesi "membentang lurus pada kutub-kutub" kita sampai pada gagasan mengenai sebuah ellipsoid.
Marilah kita pertimbangakan trayektori suatu sinar cahaya.Telah disebutkan oleh data ilmiah mutakhir bahwasanya atmosfer terdiri dari lapisan -lapisan dimana kepadatan udara semakin berkurang ketika ketinggiannya bertambah;dibawah kondisi ini,sebuah sinar cahaya harus mengikuti hukum refraksi. Al-qur'an secara konstan telah memberi tahu terlebih dulu,mengajak kita melihat tangan tak terlihat Sang Pencipta dalam gerak bayang-bayang.
Bagaimana kita menginterpretasikan hal ini?Iptek memberitahu kita bahwa sinar cahaya,yang merambat pada suatu medium dengan kepadatan yang bertingkat-tingkat,mendeskripsikan trayektori kurvalinear dengan kelengkungan yang mengarah kepada titik kepadatan tertinggi.Akibatnya "bayang-bayang" dikontraksikan secara gradual" dengan rujukan kepada suatu ruang hampa udara dimana tidak ada lagi refraksi.Demikianlah,kecocokan antara penegasan Al-qur'an dengan hukum-hukum optika,hukum yang tidak diketahui ilmu pengetahuan pada masa Al-Qur'an diwahyukan.
Bagaimana kita menginterpretasikan hal ini?Iptek memberitahu kita bahwa sinar cahaya,yang merambat pada suatu medium dengan kepadatan yang bertingkat-tingkat,mendeskripsikan trayektori kurvalinear dengan kelengkungan yang mengarah kepada titik kepadatan tertinggi.Akibatnya "bayang-bayang" dikontraksikan secara gradual" dengan rujukan kepada suatu ruang hampa udara dimana tidak ada lagi refraksi.Demikianlah,kecocokan antara penegasan Al-qur'an dengan hukum-hukum optika,hukum yang tidak diketahui ilmu pengetahuan pada masa Al-Qur'an diwahyukan.
Marilah kita perhatikan lebih jauh lagi manfaat elektrisitas dalam era modern peradaban manusia saat ini.Sungguh mengesankan kita bisa menemukan sebuab kiasan kepada fenomena yang sangat berpengaruh ini di dalam kitab suci umat Islam.Para mufasir sudah banyak yang tertarik dan memberikan perhatian lebih kepada ayat-ayat semacam itu,salah satunya berikut ini:
"Allah adalah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.Perumpamaan cahaya Allah,adalah seperti sebuah ceruk,yang didalamnya ada pelita besar.Pelita itu dalam kaca,(dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara,yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkahi,yang tumbuh tidak di barat dan tidak di timur,yang minyaknya hampir-hampir menerangi,walaupun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),Allah membimbing dengan cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki,dan Allah membuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia,dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"
(Q.S.An-Nur 24:35)
Ini adalah salah satu ayat paling indah dari seluruh Al-qur'an,ayat yang mengilhami Imam Ghazali daaam karya pentingnya, Al-Misykat (Ceruk)
(Q.S.An-Nur 24:35)
Ini adalah salah satu ayat paling indah dari seluruh Al-qur'an,ayat yang mengilhami Imam Ghazali daaam karya pentingnya, Al-Misykat (Ceruk)
Sejumlah mufasir menemukan daaam metafor ini lebih dari sekedar kiasan anagogik,ini merupakan salah satu koinsidensi mengesankan antara konsepsi Al-qur'an dengan fakta ilmiah.Uraian yang jelas mungkin dapat ditunjukkan dengan mengurutkan konsep-konsep pokoknya dalam susunan yang signifikan,dari bagian belakang ayat-ayat tersebut menjadi "bahkan tanpa bersentuhan dengan api ,cahaya memancar dari sebuah ceruk,yang di dalamnya terdapat nyala api dalam aebuah gelas"
Namun,beberapa aspek ayat ini dapat dipahami lebih mendalam dengan meminjam beberapa ekuivalen yang memadai dari istilah-istilah simbolik teknologi modern.Contoh:
~ Ceruk = trayektor = reflektor
~ Nyala api = kawat pijar
~ Gelas = Bohlam
~ Ceruk = trayektor = reflektor
~ Nyala api = kawat pijar
~ Gelas = Bohlam
Setelah membuat penggantia ini,kita akhirnya bertemu dengan frasa berikutnya,dimana kiasan tersebut menjadi lebih transparan. "Bahkan tanpa tersentuh api,cajaya muncul dari sebuah proyektor,dimana ada kawat pijar dalam sebuah bohlam,yang dinyalakan oleh zat yang berasal dari sebuah pohon yang diberkahi,yang tidak ada di barat maupun di timur".Demikianlah,salah satu koinsidensi paling mengesankan dari gagasan-gagasan wahyu dengan gagasan-gagasan teknologi modern.
Persoalan lain.Mungkin ada banyak orang yang bertanya tentang luasnya alam semesta ini secara fisik.Apakah luasnya terbatas? Al-Qur'an merespons pertanyaan ini secara eksplisit : Dan langit itu Kami Bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kamilah yang Meluaskannya (QS.51:47).Demikianlah menurut Al-Qur'an,konstruksi ruang tidak akan ada akhirnya,namun akan terus menerus bertambah.Justru data inilah yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan kemudian,yang sangat mengherankan imajinasi Albert Einstein.Fisikawan Hubble,menemukan bahwa nebula-nebula selalu bergerak menjauh dari galaksi kita,dan ahli matematika Belgia,Father Lemaither mendeduksikan teori Perluasan Semesta dari penemuan ini.
∆ Metafora Al-Qur'an ∆
Kekhasan sebuah bahasa ditentukan oleh topografi wilayah lahirnya bahasa tersebut.Langit,iklim,flora,fauna -semua ini merupakan unsur-unsur pembentuk asal-usul khas dari suatu bahasa yang membedakannya dengan bahasa yang lain.Karena itu,orang akan mengandaikan sebuah analisis mengenai gaya bahasa Al-Qur'an kepada alam lokal,tanah Arab sebagai tempat pewahyuannya.
Contoh :
"Dan mereka yang kafir itu,amal-amal mereka dalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,tetapi bila air itu didatanginya,dia tidak menemukannya.Dan dia mendapatkan (ketetapan Allah) disisinya.Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal sebagaimana mestinya,dan Allah sangat cepat perhitungannya."
(Q.S An-Nur 24:39)
Contoh :
"Dan mereka yang kafir itu,amal-amal mereka dalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,tetapi bila air itu didatanginya,dia tidak menemukannya.Dan dia mendapatkan (ketetapan Allah) disisinya.Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal sebagaimana mestinya,dan Allah sangat cepat perhitungannya."
(Q.S An-Nur 24:39)
Dalam gambaran yang memilukan ini,orang menemukan referensi kepada padang pasir tandus Arabia dan rujukan kepada ilusi fantastik mengenai sebuah fatamorgana.Ini adalah khas metafora Arab: baik bumi maupun langitnya merefleksikan topografi Arab.Ayat tersebut menggunakan ilusi menyedihkan mengenai fatamorgana dengan ketegasan menyolok menunjukkan bagaimana mendalamnya rasa putus asa yang diderita orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya sendiri.
Namun,metafora Al-qur'an tidak selalu ,bahkan seringkali bukanlah refleksi dari kehidupan masyarakat badui.Sebaliknya ia seringkali memasukkan istilah-istilah perbadingan iklim,lingkungan dan lanskap yang berbeda.Sungai mengalir melintasi kawasan hijau lebih mengingatkan kita kepada kawasan kawasan subur di sekita sungai Nil,Eufrat ataupun Gangga.Awan -awan yang dibawa angin "untuk menghidupkan kembali bumi yang mati" bukanlah sebuah pemandangan harian langit Arabia,langit padang pasir yang menyala seperti perunggu yang dipanaskan dan telanjang seperti padan pasir itu sendiri.
Contoh :
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,yang diliputi oleh ombak yang berlapis-lapis,yang diaatasnya diliputi awan.Gelap gulita yang bertindih-tindih,sehingga apabila ia mengulurkan tangannya sendiri,dia pun tidak dapat melihatnya.Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah,dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun". (Q.S.An-Nur 24:40)
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,yang diliputi oleh ombak yang berlapis-lapis,yang diaatasnya diliputi awan.Gelap gulita yang bertindih-tindih,sehingga apabila ia mengulurkan tangannya sendiri,dia pun tidak dapat melihatnya.Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah,dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun". (Q.S.An-Nur 24:40)
Berbalikan dengan contoh pertama,metafora dalam ayat ini menghadirkan sebuah imaji yang tidak punya hubungan sama sekali dengan lingkunagn geografis Al-Qur'an.Tidak pula dengan level intelektual atau pengetahuan kelautan pada era jahiliyah.Dalam totalitasnya,pemandangan tersebut justru tampak berasal dari lanskap sebelah utara,yang diselimuti kabut,sebagaimana dapat ditemukan di kawasan-kawasan Dunia Baru atau kawasan Islandia.
Seandainya Nabi Muhammad pernah menyaksikan pemandangan laut,Beliau mungkin hanya melihat tepi Laut Merah dan Mediterania.Diluar karakter eksternal metafora yang jelas ini,kita mendapatkan referensi berkaitan "kedalaman lautan" ,disiplin optika .Tentang pelapisan-pelapisan gelombang dan fenomena penyusutan cahaya dan lenyapnya cahaya yang mulai berlangsung ketika berada pada kedalaman air tertentu.
Maha Suci,Maha Benar ALLAH dengan segala firman-Nya. Subhanallah
Seandainya Nabi Muhammad pernah menyaksikan pemandangan laut,Beliau mungkin hanya melihat tepi Laut Merah dan Mediterania.Diluar karakter eksternal metafora yang jelas ini,kita mendapatkan referensi berkaitan "kedalaman lautan" ,disiplin optika .Tentang pelapisan-pelapisan gelombang dan fenomena penyusutan cahaya dan lenyapnya cahaya yang mulai berlangsung ketika berada pada kedalaman air tertentu.
Maha Suci,Maha Benar ALLAH dengan segala firman-Nya. Subhanallah
(Kutipan "Fenomena Al-Qur'an" oleh Malik Ben Nabi dengan sedikit pengubahan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)