Antara Doa dan taqdir


Sebuah pertanyaan pernah dilontarkan oleh seorang sufi "Kalau hidup kita telah ditaqdirkan -ditentukan sebelumnya- oleh Tuhan,untuk apa kita berdoa?

1.Taqdir dan penafsirannya
                       Pembicaraan yang berkenaan dengan taqdir pada dasarnya merupakan bagian dari pembicaraan tentang hubungan Tuhan dengan alam pada umumnya dan hubungan Tuhan dengan manusia pada khususnya.Bahwa Tuhan yang mengatur alam semesta termasuk manusia merupakan pernyataan yang disepakati oleh pemikir pemikir agama.Meskipun begitu mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kata "mengatur" atau dengan "cara apa" Ia  mengatur alam semesta.Ada 3 kelompok yang berpartisipasi dalam perdebatan ini.

Ulama/sarjana-sarjana Islam pada masa-masa awal cenderung mengartikan kata "mengatur" dengan "menentukan" dari semua kejadian alam,kematian dan nasib akhir manusia serta yang akan terjadi di masa depan.Pada saat itu pertanyaan tentang "kebebasan" dan "tanggung jawab moral" manusia belum merupakan sesuatu yang populer.Tetapi ketika Bani Umayyah merebut kekuasaan dari tangan Hasan (anak Ali bin Abi Thalib) kemudian memerintah dengan sewenang-wenang maka pertanyaan tentang taqdir (qadar) muncul.Hal ini misalkan dijelaskan oleh Ignas Goldziher sebagai berikut : Khalifah-khalifah Bani Umayyah sering mengkalim bahwa mereka memegang kekuasaan sekarang ini sesuai dengan "ketentuan/taqdir" Tuhan dan orang yang menentang taqdir Tuhan (dalam hal ini tentu saja pemberontak) adalah kafir.Tapi timbul keraguan terhadap pernyataan itu di kalangan ulama sendiri sebab kalau itu taqdir Tuhan,mengapa para khalifah itu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama?.

                      Dari sini muncullah kaum Qadariyah.Ide-ide Qadariyah,dalam kepercayaannya mengatakan bahwa "manusia mempunyai pilihan" dan bahwa "dari Tuhan akan muncul kebaikan,sedangkan kejahatan timbul dari manusia atau setan".Secara umum kaum Qadariyah percaya bahwa manusia bisa mengadakan pilihan untuk melakukan sesuatu dan atas dasar pilihan itu maka manusia akan mendapatkan pahala atau hukuman sebagai tanggung jawab mereka.Bagi mereka Tuham hanya menentukan hal-hal yang bersifat eksternal seperti kekayaan dan panenan.

                      Kelompok lain yang meneruskan ide-ide Qadariyah adalah Mu'tazilah yang terkenal sebagai kaum rasionalis Islam.Sementara kelompok pertama percaya bahwa Tuhan mengatur dan menentukan baik manusia maupun alam semesta langsung sebagai sebab efisien dan kelompok kedua percaya bahwa Tuhan hanya menentukan peristiwa alam tapi tidak manusia,maka kaum Mu'tazilah (paling tidak salah satu sektenya) percaya bahwa Tuhan mengatur alam semesta melalui "sunnah Allah" yang ditafsirkan sebagai "hukum alam".Menurut mereka,hukum alam sekali diciptakan Tuhan dengan kadar/sifat-sifat tertentu,akan berlaku secara universal dan bahkan pada akhirnya tidak bisa diubah oleh Tuhan dan konsekuensinya membatasi kekuasaan Tuhan itu sendiri.Mereka tidak percaya pada kekuasaan Tuhan yang sewenang-wenang.Mereka yang sering menyebutkan dirinya kaum yang mendukung konsep "keadilan Tuhan dan keesaan-Nya",tidak percaya bahwa Tuhan akan berlaku sewenang-wenang.Misalnya Tuhan tidak mungkin memasukkan orang yang baik ke neraka atau sebaliknya.Tidak mungkin Tuhan berlaku tidak adil dan tidak bisa Dia berbuat yang tidak adil.Bagi mereka Tuhan telah menentukan hukum-hukumnya dan juga hukum alam,dan manusia bisa memilih perbuatannya dan menhindarkan perbuatan dosa.

                      Terhadap kecenderungan ini,muncul sebuah reaksi dari suatu kelompok yang kemudian disebut Asy'ariyah.Pada umumnya mereka percaya bahwa kekuasaan Tuhan adalah mutlak.Tuhan adalah sebab efisien daripada segala peristiwa yang terjadi di dunia.Sesuai dengan semangat itu,mereka menolak keniscayaan hubungan sebab akibat,dan mengatakannya hanya sebagai 'adah (kebiasaan) bukan keniscayaan.Sebab bila hubungan kausalitas itu niscaya,maka kekuasaan Tuhan akan terancam karena bahkan Tuhan tidak akan bisa mengubahnya.Untuk mendukung pendapat ini,salah seorang tokohnya,al-Baqillani dalam kitabnya Al-Tamhid mengemukakan teori yang kemudian terkenal dengan nama "atomisme Asy'ariyah".Teori itu mengatakn bahwa alam semesta terdiri dari "substansi dan aksiden".Dalam hal ini substansi disamakan dengan atom.Aksiden punya kemampuan bertahan hanya satu atau dua saat saja dan agar substansi mempertahankan eksistensinya,maka ia tergantung sama sekali pada diciptakannya secara terus menerus aksiden oleh Tuhan.Tuhan digambarkan oleh mereka "mencipta hal-hal baru setiap saat".Dan karena itu apapun yang akan terjadi di dunia ini sangat tergantung kepada kehendak Allah.

2.Hubungan Do'a dan taqdir
                       Bagi kelompok pertama,dimana Tuhan telah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi di dunia ini,kita tidak akan bisa berbuat lain kecuali menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.Kita berbuat sesuatu karena Tuhan memerintahkannnya.Terhadap pernyataan apakah kita perlu bedoa,mereka menjawab "perlu" karena Tuhan telah menyuruh kita untuk berdoa.Sejauh itu mereka tidak menanyakan apakah doanya itu bisa mengubah taqdir Tuhan atau tidak.

                      Bagi kelompok kedua,doa secara teoritis akan menjadi sebuah masalah.Mereka lebih menekankan amal yang dapat manusia pilih dan hasilnya akan menentukan nasib manusia di masa depan.Bagi mereka setiap perbuatan akan menghasilkan akibat-akibat tertentu secara niscaya.Do'a dipandang perlu karena mereka yakin bahwa do'a akan menimbulkan efek tertentu.Namun disini apabila do'a menghasilkan efek tertentu secara niscaya,maka semua doa harus dipandang efektif.Tetapi dalam kenyataanya tidak semua doa efektif dalam arti dikabulkan.Oleh mereka doa tidak dipandang sebagai mengubah hukum alam karena hukum alam tidak bisa diubah.Barangkali doa punya efek yang bersifat subjektif/psikologis ketimbang sebagai sesuatu yang menentukan hasil perbuatan seseorang.

                       Bagi kelompok ketiga,yang percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan dan tidak percaya kepada keniscayaan hubungan kausalitas,do'a bisa sangat efektif jika Tuhan berkenan menerimanya.Sebab tidak mustahil untuk Tuhan mengubah "adat" yang berlaku di alam secara tidak niscaya .Dengan menciptakan atom-atom baru menggantikan atom-atom lama,Tuhan seperti dikatakan oleh Al-Ghazali,bisa saja mengubah buku menjadi singa,sekalipun tidak harus berbuat demikian (melainkan menurut kebiasaan saja).Konsekuensi logis dari pendirian ini adalah bahwa mereka tidak mementingkan tindakan sebagai satu-satunya  faktor yang menentukan.Meskipun begitu,dalam kenyataannya mereka mengajukan konsep "kasb" atau usaha-usaha yang perlu manusia lakukan.Ini terjadi karena manusia dipandang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah itu.Pendirian mereka lebih tepat digambarkan sebagai berikut: Manusia berusaha,tetapi Tuhan yang menentukan.

3.Taqdir dan kebebasan menurut Rumi
                      Pandangan yang dinamis oleh Rumi terletak pada penafsirannya yang progresif terhadap konsep "tawakkal" yang selama ini telah disalahpahami sebagai "penyerahan total".Bagi Rumi,tawakkal bukanlah penerimaan yang pasif tetapi perjuangan aktif dari seseorang dengan menggunakan kekuatan memilih.Hal ini diilustrasikan oleh Rumi dengan sebuah fabel dimana orang-orang yang berpandangan fatalistis diperankan sebagai hewan-hewan biasa sedangkan orang yang mewakili pendapatnya digambarkan sebagai singa.

          Sekelompok hewan berkata kepada seekor singa
          Tidak ada karya yang lebih baik daripada tawakkal kepada Tuhan.Apa yang lebih disukai Tuhan selain pengunduran diri?

           Sering kita lepas dari bahaya hanya untuk jatuh pada bahaya yang lain;lepas dari mulut buaya,masuk ke mulut singa.

          "Ya",kata Singa."Tetapi Tuhan telah memasang tangga di depan kaki kita"

          Kita harus memanjatnya setahap demi setahap sampai atap.

          Menjadi Jabariyah disini hanyalah menggantung harapan palsu.

          Anda punya kaki,mengapa dibiarkan lumpuh.Anda punya tangan,mengapa enggan direntang.

          Sesungguhnya bila sang Tuan memberikan alat pada hambanya,tujuannya menjadi jelas tanpa harus bicara

           Kebebasan memilih adalah upaya untuk bersyukur pada Tuhan atas kebaikannya.

           Sikapmu yang pasrah mencampakkan hadiah kebebasan Tuhan dari tanganmu

           Kepasrahanmu ibarat tidur di tengah jalan:jangan tidur.

           Karena tidur tidak aman kecuali di bawah pohon yang sarat dengan buah.

           Sehingga setiap saat angin menggoyangkan dahan dan rantingnya.

           Pohon itu melimpahkan bekal perjalanan bagi Pencari kebenaran

          Jika kamu ingin bertawakkal kepada Allah,tawakkallah dengan karyamu

          Tanamlah benih dan barulah berserah diri pada Tuhan.


Rumi memnadang pelaksanaan kebebasan memilih sebagai upaya untuk berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya.Bahkan kebebasan itu di pandang sebagai "amanat" yang Tuhan pikulkan di atas pundak manusia,yang mana manusia terus menerus diuji atau sebagai batu ujian.Seperti tercermin dalam salah satu ayat Al-Qur'an: "Dialah yang menjadikan kematian dan hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya".

Kesimpulannya kembali lagi pada "Kun fayakun".Tiada yang mustahil bagi Allah jika Dia menghendaki demikian.Manusia hendaklah memohon petunjuk kepada-Nya.

Do not despair of the mercy of Allah (39:53).There's no need to get worried when you can express everything to the one who created you.If you want it make Doa for it,if you dont get it have sabr,and if you get it Thank Allah for it.Allah never says no,is always yes in a good way.Just be sincere in whatever you do.

Sumber : Ringkasan dengan pengubahan seperlunya dari Kartanegara,Mulyadhi.2000.Mozaik Khazanah Islam.Bunga Rampai dari Chicago.Jakarta.Penerbit Paramadina.





Sumber gambar: https://www.instagram.com/p/BcCW0iNjhxd/





                     

0 komentar:

Posting Komentar