Persoalan Hijab
Diposting oleh
Admin
| Selasa, 10 Oktober 2017 at 10/10/2017 01:08:00 AM
0
komentar
Saat ini yang dimaksud dengan hijab adalah pakaian penutup muslim yang taat beragama,yaitu dengan menutup seluruh tubuhnya selain wajah dan dua telapak tangan,dan terkadang lebih spesifik lagi yaitu menutup kepala dan rambut.
Bagi kalangan modernis,bentuk busaba seperti ini sudah tidak cocok lagi untuk zaman modern.Demi meningkatkan martabat perempuan dan pembebasannya,maka perempuan harus berperan dalam segala bidang kehidupan umum dari sekolah,perguruan tinggi,pabrik,administrasi,bisnis dan perdagangan.Mereka menganggap bahwa hijab membelenggu perempuan dan merintangi kemaslahatannya.
Apakah hijab sendiri jauh dari kemaslahatan?
Jika kita telusuri wacana modernitas yang sangat membingungkan dan menakjubkan,maka kita tidak temukan adanya kemaslahatan hakiki dalam melepaskan hijab atau membiarkannya.Saya kira realitas kekinian di seluruh dunia,di dunia Islam dan d dunia Barat,menolak apa yang dipropagandakan tentang sisi negatif hijab.Tidak ada korelasi sama sekali antara hijab dengan kebodohan,keterbelakangan,dan kemunduran,bahkan pada batas tertentu menjadi simbol kebebasan dan komitmen pada hak-hak dan kewajiban,serta menjadi simbol kesetiaan dan keseriusan dalam perjuangan.Simbol ini pada masa lalu bukan sekedar sesuatu yang biasa saja namun telah diakui dan menjadi kebanggan bersama.
Saat ini kita temukan berbagai macam model hijab dan diterima dalam berbagai aktivitas keilmuan dan kerja berteknologi modern.Hijab muncul dimana-mana,kecuali di tempat-tempat yang dilarang ata yang tidak sesuai dengan kehormatan dan etika (akhlaq).Ini berarti bertolak belakang dengan pandangan bahwa hijab pada perempuan menjadikannya terbelakang,mundur,dan mempersempitngerak dan kepentingannya.
Sedangkan dari sisi lain,hijab muncul membawa nilai dan manfaat yang lebih besar dari sebelumnya pada saat sekarang ini.Saat ini kaum perempuan terombang-ambing oleh arus globalisasi yang merendahkan derajat perempuan dengan eksploitasi tubuh secara luar biasa yang dipertontonkan di setiap tempat.Perempuan-dalam lingkup yang luas-secara sadar atau tidak sadar dan sengaja atau tidak disengaja,telah terjerumus dalam trend pesona tubuh dan mode,atau menurut bahasa Al-Qur'an sebagai fitnah al-tabarruj (godaan berhias).Segala bentuk perhiasan dan busana--diketahui atau tidak diketahui-- dipergakan untuk dipamerkan untuk memamerkan perhiasan dan tubuh perempuan.Kebanyakan dari mereka--setiap kali keluar rumah-- berlomba mempercantik diri dan memamerkannya di jalanan,kantor,pantai,sekolah,universitas,pertemuan,pesta dan lain sebagainya.
Begitu perempuan masuk dalam perangkap abadi yang merendahkan nilai dan martabatnya,maka semakin berkurang aktivitas produktifnya,karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersolek mempercantik diri dan mengurusi mode pakaiannya.
Pada hakikatnya yang mengekang kebebasan perempuan,studi,dan pekerjaannya bukanlah hijab,akan tetapi gaya hidup glamor untuk berhias,bersolek,dan sikap pamer.Ini semua tidak membutuhkan pembuktian yang mutawatir,pengakuan,atau kesaksian khusus,akan tetapi telah menjadi fenomena real yang dapat disaksikan oleh siapapun yang mengakui atau menolaknya.
Kenyataan buruk seperti ini telah menjerumuskan perempuan dalam kehinaan dari penghormatan menuju eksploitasi tubuh.Disinilah peran busana muslimah yang menjaga perempuan dari jurang kehancuran,melindunginya dari fitnah akibat pesona tubuh,pakaian,perhiasan,dan keharuman parfumnya dalam pergaulan dan interaksi sosialnya.
Sesungguhnya pakaian yang terhormat,tertutup,longgar,dan sederhana sangat dibutuhkan untuk menghentikan eksploitasi tubuh perempuan,dan menjadi sarana untuk mengangkat kembali martabat dan kehormatan perempuan,maka inilah kemaslahatan hakiki.
Sumber: Ahmad al-Raysuni dan Muhammad Jamal Barut.2002.Ijtihad : Antara Teks,Realitas dan Kemaslahatan Sosial.Diterjemahkan oleh : Ibnu Rusyd dan Hayyin Muhadzar.Jakarta: Penerbit Erlangga
Bagi kalangan modernis,bentuk busaba seperti ini sudah tidak cocok lagi untuk zaman modern.Demi meningkatkan martabat perempuan dan pembebasannya,maka perempuan harus berperan dalam segala bidang kehidupan umum dari sekolah,perguruan tinggi,pabrik,administrasi,bisnis dan perdagangan.Mereka menganggap bahwa hijab membelenggu perempuan dan merintangi kemaslahatannya.
Apakah hijab sendiri jauh dari kemaslahatan?
Jika kita telusuri wacana modernitas yang sangat membingungkan dan menakjubkan,maka kita tidak temukan adanya kemaslahatan hakiki dalam melepaskan hijab atau membiarkannya.Saya kira realitas kekinian di seluruh dunia,di dunia Islam dan d dunia Barat,menolak apa yang dipropagandakan tentang sisi negatif hijab.Tidak ada korelasi sama sekali antara hijab dengan kebodohan,keterbelakangan,dan kemunduran,bahkan pada batas tertentu menjadi simbol kebebasan dan komitmen pada hak-hak dan kewajiban,serta menjadi simbol kesetiaan dan keseriusan dalam perjuangan.Simbol ini pada masa lalu bukan sekedar sesuatu yang biasa saja namun telah diakui dan menjadi kebanggan bersama.
Saat ini kita temukan berbagai macam model hijab dan diterima dalam berbagai aktivitas keilmuan dan kerja berteknologi modern.Hijab muncul dimana-mana,kecuali di tempat-tempat yang dilarang ata yang tidak sesuai dengan kehormatan dan etika (akhlaq).Ini berarti bertolak belakang dengan pandangan bahwa hijab pada perempuan menjadikannya terbelakang,mundur,dan mempersempitngerak dan kepentingannya.
Sedangkan dari sisi lain,hijab muncul membawa nilai dan manfaat yang lebih besar dari sebelumnya pada saat sekarang ini.Saat ini kaum perempuan terombang-ambing oleh arus globalisasi yang merendahkan derajat perempuan dengan eksploitasi tubuh secara luar biasa yang dipertontonkan di setiap tempat.Perempuan-dalam lingkup yang luas-secara sadar atau tidak sadar dan sengaja atau tidak disengaja,telah terjerumus dalam trend pesona tubuh dan mode,atau menurut bahasa Al-Qur'an sebagai fitnah al-tabarruj (godaan berhias).Segala bentuk perhiasan dan busana--diketahui atau tidak diketahui-- dipergakan untuk dipamerkan untuk memamerkan perhiasan dan tubuh perempuan.Kebanyakan dari mereka--setiap kali keluar rumah-- berlomba mempercantik diri dan memamerkannya di jalanan,kantor,pantai,sekolah,universitas,pertemuan,pesta dan lain sebagainya.
Begitu perempuan masuk dalam perangkap abadi yang merendahkan nilai dan martabatnya,maka semakin berkurang aktivitas produktifnya,karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersolek mempercantik diri dan mengurusi mode pakaiannya.
Pada hakikatnya yang mengekang kebebasan perempuan,studi,dan pekerjaannya bukanlah hijab,akan tetapi gaya hidup glamor untuk berhias,bersolek,dan sikap pamer.Ini semua tidak membutuhkan pembuktian yang mutawatir,pengakuan,atau kesaksian khusus,akan tetapi telah menjadi fenomena real yang dapat disaksikan oleh siapapun yang mengakui atau menolaknya.
Kenyataan buruk seperti ini telah menjerumuskan perempuan dalam kehinaan dari penghormatan menuju eksploitasi tubuh.Disinilah peran busana muslimah yang menjaga perempuan dari jurang kehancuran,melindunginya dari fitnah akibat pesona tubuh,pakaian,perhiasan,dan keharuman parfumnya dalam pergaulan dan interaksi sosialnya.
Sesungguhnya pakaian yang terhormat,tertutup,longgar,dan sederhana sangat dibutuhkan untuk menghentikan eksploitasi tubuh perempuan,dan menjadi sarana untuk mengangkat kembali martabat dan kehormatan perempuan,maka inilah kemaslahatan hakiki.
Sumber: Ahmad al-Raysuni dan Muhammad Jamal Barut.2002.Ijtihad : Antara Teks,Realitas dan Kemaslahatan Sosial.Diterjemahkan oleh : Ibnu Rusyd dan Hayyin Muhadzar.Jakarta: Penerbit Erlangga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)